Dampingi Anak Saat memiliki Idola



Salam Berkilau.
Rani memiliki idola bernama Salsa.  Salsa seorang “selebgram”, yang memiliki banyak follower.  Rani  sangat mengidolakan Salsa. Ia selalu mengikuti kegiatan Salsa melalui Instagramnya. Suatu kali untuk kesekian kalinya Salsa tersandung kasus foto topless atau foto bugil yang mengakibatkan ia dikeluarkan dari sekolahnya. Apa yang terjadi pada Rani? Mengambil pelajaran untuk tidak melakukan hal yang sama karena dapat mengakibatkan dikeluarkan dari sekolah?  Sayangnya tidak. Rani justru melakukan hal yang sama dan iapun terpaksa dikeluarkan dari sekolah.*(ilustrasi berdasarkan kisah nyata dengan penggantian nama tokoh)

Hampir semua anak memiliki sosok idola siapapun itu. Bila idola mereka  ayah dan bundanya, kakak atau masih ada hubungan saudara kita tidak perlu terlalu kuatir. Lalu bagaiman jika yang menjadi idola adalah orang yang sama sekali kta tidak kenal bahkan tidak terjangkau oleh kita ?  Tidak masalah bila tokoh yang  diidolakan  sosok BJ Habibie, Chairul tanjung, Nadiem Karim, Sri Mulyani, Merry Riana, Najwa Shihab, atau tokoh dunia misalnya steve jobs, Malala Yousafzai,  dan seabagainya. 
Lalu bagaimana jika anak anak kita mengidolakan  “sosok yang salah”?
Banyak anak yang memilih “idola yang salah”.  Sayangnya anak-anak tetap mengagumi idolanya bahkan mereka melakukan apa yang idolanya lakukan.  Lalu apa yang harus kita lakukan? Melarangnya atau membiarkan ?

Ada beberapa hal hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak negatif yang mungkin dilakukan   anak terhadap idolanya

1. Mencari tahu siapa Idola anak kita
Tidak semua anak terbuka menceritakan siapa idola mereka.  Bisa karena perbedaan generasi  dan anak kita menganggap orang tua sudah berbeda zaman, atau karena anak menyadari idola mereka tidak akan disukai oleh kita.  Orang tua perlu mencari cara untuk mengetahui siapa idola anaknya. Bisa dilakukan dengan mencari tahu melalui media sosial seperti instagram.  Biasanya anak-anak akan rutin memberi”like” pada seseorang yang menjadi idola mereka. Bisa juga dengan memancing melalui pembicaraan santai.

2. Mencari tahu apa alasan anak kita mengidolakannya
Orang tua harus mengetahui apa alasan anak suka pada sang idola. Tidak ada salahnya kita memanfaatkan sosmed untuk seperti instagram untuk mengetahui aktivitas, latar belakang, prilaku dan kehidupan sang idola sehingga kita dapat menganalisa dampak  apa yang mungkin berpengaruh bagi anak kita.

3. Pembicaraan Tentang Idola
Orang tua perlu sesekali terlibat pembicaraan yang membahas  idola anak tentunya setelah kita mencari tahu tentang sosoknya.  Dari pembicaraan ini orang tua bisa mengetahui sejauh apa “kecintaan” anak kita pada idolanya.  Inilah saat yang tepat untuk memberi masukan bila ternyata idolanya memiliki prilaku atau hal yang menyimpang atau sebaiknya mendukung bila memang berdampak baik

4. Karakter
Saat anak memilih seseorang untuk menjadi idolanya bisa jadi disitulah terjadi proses pembentukan karakter.  Kita harus memastikan bahwa karakter dari sang idola membawa dampak baik bagi anak anak kita.  Namun bila ternyata karakternya tidak baik orang tua perlu memberi penjelasan yang dapat diterima oleh anak

5.       Usia dari Sang Idola
Orang tua perlu memperhatikan usia dari sang Idola, karena anak cenderung meniru apa yang dilakukan idolanya.  Saat seorang anak  mengidolakan sosok yang jauh lebih dewasa darinya  mungkin saja mereka meniru berbagai hal mulai dari penampilan, aktivitas hingga cara berfikir, yang tidak sesuai dengan usianya.  Hal ini dapat mengganggu perkembangannya. Saat inilah orang tua perlu hadir dan memastikan agar anak-anak berkembang sesuai dengan usianya.

6. Dunia nyata VS dunia maya
Idola anak kita mungkin  saja bukan sosok yang “nyata”.  Mereka tidak pernah bertemu langsung dengan tokoh idola meraka.  Anak kita hanya mengenal dan mengikuti dari media sosial atau media eletronik.  Orang tua perlu memberi penjelasan bahwa mungkin saja  apa yang Idola mereka tampilkan di medsos atau media elektronik bukanlah hal yang sesungguhnya mereka lakukan.  Bisa jadi hanya pencitraan saja. Karena bagaimanapun sang idola tidak akan mau terlihat buruk dimata orang banyak.

7. Budaya, Norma dan Nilai Sosial
Pada saat anak kita mengidolakan seseorang yang memiliki pemahaman norma , nilai  sosial dan keyakinan yang berbeda tentunya ini akan membuat anak “terjebak” dalam pilihan  pantas atau tidak pantas. Orang tua perlu menjelaskan bagaimana prilaku, aturan yang baik dan tidak baik dimata agama, norma, nilai sosial dan budaya yang berlaku di masyarakat.

8. Fanatik atau Terobsesi
Tidak ada salahnya anak memiliki idola.  Namun orang tua harus memberi penekanan agar anak tidak fanatik  atau terobsesi berlebihan kepada Idolanya. Anak yang terobsesi dengan idolanya, mau melakukan apa saja demi idolanya. Akhir-akhir kasus kejahatan seksual yang terjadi, bahkan  dilakukan oleh sang idola kepada ‘penggemarnya”

9. Identitas diri
Kekaguman anak pada idolanya bisa membuat mereka kehilangan identitas diri, baik identitas sebagai dirinya pribadi hingga identitas bangsanya.  Misalnya seorang anak yang sangat mengidolakan artis K-POP mereka akan mencari tahu lebih banyak tentang Korea. 

10.Dampak Psikologi
Hati-hati dengan dampak psikologi pada anak kita.  Pada tahap tertentu seseorang yang terlalu mencintai idolanya mereka akan memasuki tahap terobsesi pada sang idola. Mereka seakan” masuk” dalam dunia sang idola.  Masuk  kedalam dunia sang idola dapat mengakibat emosi yang tidak terkendali.  Anak bisa menjelma menjadi “Haters” atau mudah  membenci orang-orang yang tidak menyukai idolanya.  Yang paling berbahasa adalah mengalami depresi akibat  obsesi tentang idolanya tidak tercapai.

Demikian beberapa hal yang dapat dilakukan oleh para orang tua saat menghadapi putra-putrinya yang memlki Idola.
Semoga bermanfaat dan tetaplah menjadi orang tua yang menyenangkan yang selalu hadir dalam setiap tahapan kehidupannya.


#OrangTauHebatOrangTuaTerlibat
#KeluargaPeduliPendidikan
#IbuBerkilau
#KerLiPParenting
#iKerLiP


Tempat yang Nyaman Belum Tentu Aman Hati-hati dengan Predator Pedofil




Salam Orang Tua Berkilau
Wulan adalah seorang ibu dari dua orang anak . Ia seorang ibu yang sangat memperhatikan anak-anaknya.  Wulan selalu menghabiskan waktunya untuk menjaga kedua anaknya, mulai dari mengurus kebutuhan keluarga hingga antar jemput keduanya.  Hampir 24 jam Wulan selalu ada untuk kedua anaknya kecuali   weekend atau liburan saat sesekali kedua anaknya menginap di rumah oma mereka. Belum lama ini Wulan mengalami cobaan besar. Hatinya sangat hancur saat Rayhan putra pertamanya menceritakan hal yang dialami selama 2 tahun terakhir.  Rayhan mendapatkan tindak pelecehan seksual.  Pelecehan seksual yang terjadi pada Rayhan tergolong kasus pedofil, karena si pelaku  berusia dewasa dan Rayhan sendiri masih berusia 10 tahun. Hal lain yang membuat Wulan lebih syok adalah pelakunya keluarga dari ayah Rayhan dan ia melakukan aksi bejadnya di rumah omanya, saat Rayhan menginap.
Ilustrasi

Di Indonesia Kasus Pedofilia mulai banyak diperbincangkan sejak tahun 2014 saat mencuat kasus Emon Sang Predator di Sukabumi yang memakan korban lebih dari 100 anak.  Lalu apa itu Pedofilia?  Pedifilia adalah kelainan psikoseksual yang terjadi pada orang dewasa atau anak yang beranjak dewasa dimana   yang memiliki ketertarikan atau “nafsu”  terhadap anak kecil atau anak di bawah umur. Orang yang menginap pedofilia disebut pedofil dengan usia minimal 16 tahun.  Pedofilia adalah penyakit yang kebanyakan “diderita” oleh laki-laki namun tidak menutup kemungkinan diidap pedofil  juga oleh perempuan. Secara fisik cukup sulit untuk mengenali ciri pengidap pedofil.  Orang tua harus jeli dan aktif  dalam mengenali predator yang mengincar anak anak.
Para predator biasa melakukan 2 tahapan yaitu tahap grooming atau  membuka akses untuk dekat dengan anak dan silenting atau meminta korban untuk diam dan merahasiakan perbuatannya. Berikut ini adalah tahapan yang biasa dilakukan oleh para predator dalam mengejar mangsanya. 


Grooming atau proses pendekatan
1. Membuka akses untuk mencoba dekat dengan anak.
Orang tua perlu waspada saat seseorang (remaja atau dewasa) mencari  cara mendekat pada keluarga atau anak-anak kita.  Mereka bisa menggunakan berbagai cara untuk bisa dekat dengan anak-anak. Bisa bekerja di rumah si anak, menjadi sahabat orang tuanya, menjadi orang yang selalu siap membantu keluarga  atau menjaga anak dan lain sebagainya.

2. Hadiah dan perhatian tanpa waktu dan alasan yang tepat
Predator biasanya senang memberi hadiah pada anak-anak calon korbannya untuk  menarik perhatian.  Untuk itu orang tua harus waspada bila  anak kita mendapat hadiah tanpa alasan event tertentu, misalnya ulang tahun.  Kita juga harus waspada saat ada orang yang menjaga atau nawarkan diri merawat anak  saat orang tuanya sibuk., mengantarkan ke wc, mengajak bermain dan sebagainya. Tujuan mereka melakukan itu adalah untuk mencari cara agar dapat berdua dengan anak.

3. Peka
Orang tua harus cukup peka menanggapi “ocehan”anak.  Biasanya pada tahapan pendekatan ini anak yang sudah mulai masuk dalam proses jeratan pendekatan anak yang mulai masuk dalam perangkap biasanya akan mulai merasa nyaman dan melihat figure predator sebagai seseorang yang pantas dikagumi.  Orang tua perlu peka saat anak kita mulai memuji atau membanggakan seseorang yang jauh lebih dewasa dari nya yang menurutnya istimewa.  Termasuk orang orang yang memberkan hadiah atau perhatian bagi anak.

Tahap Silenting
Pada tahapan silenting ini biasanya pelaku meminta korban untuk diam dan merahasiakan perbuatannya.  Bentuknya bisa pengancaman  dengan dalih macam-macam. Anak yang berada dalam tahapan ini besar kemungkinan tidak mempunyai keberanian untuk bicara jujur tentang apa yang dialaminya.  Namun sebagai orang tua kita perlu lebih jeli melihat perubahaan-perubahan yang terjadi Berikut beberapa ciri anak berada dibawah tekanan atau ketakutan. 
1. Anak lebih pemurung, sering melamun  seringkali merasa tidak nyaman namun tidak temukan alasan ketidaknyamanannya bahkan tidak mau bergaul dengan teman sebayanya.
2. Semangat belajar turun, malas ke sekolah, tidak bisa konsentrasi  saat belajar bahkan
3. Terjadi perubahan sikap menjadi lebih agresif, emosinya naik turun.   Anak menjadi mudah sekali marah, kasar, suka menendang atau memukul, berteriak hingga menggigit. Biasanya mereka melampiaskan kemarahannya pada anak-anak yang lebih muda usianya.
4. Perubahan pola tidur pada anak.  Anak sering sulit tidur, sering terbangun secara tiba-tiba, mengigau, berteriak atau marah dalam tidurnya.
5. Anak sering mengalami sakit yang berhubungan dengan pencernaan akibat perubahan pola makan.  Anak yang berada dalam tekanan biasanya pola makannya sering berubah. Kadang ia makan sangat berlebihan kadang sebaliknya nafsu makannya menurun hingga tidak mau makan, akibatnya mereka sering mengalami sakit perut, diare hingga magh 
6. Anak  tiba-tiba sering  mengompol  atau buang air besar di celana, padahal sebelumnya sudah tidak dilakukannya lagi.
Bila anak mengalami 6 ciri diatas dan ditambah 4 ciri-ciri dibawah ini, kemungkinan besar anak adalah korban pedofil.  Berikut ciri selanjutnya :
1. Anak menunjukkan tanda tanda berada dalam tekanan  ketakutan (seperti penjelasan di atas)
2. Terdapat luka, memar atau lecet  yang tidak jelas penyebabnya terutama di bagian tubuh yang tertutup baju
3. Merasa takut pergi ke tempat tertentu.  Tempat tertentu biasanya merupakan tempat kejadian perkara sehingga anak mengalami trauma atau takut bila harus  kembali ke sana.  Bisa juga suatu saat ia menunjukkan ketakutan yang berlebihan  yang muncul tiba-tiba.  Ini biasanya akibat dari tekanan yang ia dapatkan dari si pelaku
4. Korban Pedofil biasanya menunjukan prilaku seksual yang tidak wajar.  Kadang ia ingin menyentuh orang lain atau ingin orang lain menyentuhnya. Ia juga sering memegang alat kelaminnya atau mengatakan dan berprilaku yang mengarah pada kata-kata atau hal yang mengarah pada seks yang tidak wajar bagi anak seusianya.
Apa yang harus orang tua lakukan agar anak terhindar menjadi korban para predator pedofil
1. Sedini mungkin memberi tahukan mereka bagian-bagian tubuh yang mana yang tidak boleh disentuh , kecuali oleh ibunya saat membantunnya mandi.  Ada sebuah lagu dengan nada pelangi-pelangi dengan lirik: inilah tubuhku kankujaga slalu, tak boleh disentuh tak boleh diganggu, hanyalah ibuku dan juga diriku yang boleh melihat atau menyentuh.  Bila anak bertenya jelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak. Misalnya pada saat dokter menyentuhnya untuk keperluan pemeriksaan. 
2. Mengajarkan anak untuk berani menolak atau mengatakan tidak  bila ada orang yang menyentuh dan membuat mereka merasa tidak nyaman, apalagi mengajaknya pergi ke suatu tempat tanpa orang tua. Walaupun yang melakukannya orang yang mereka kenal sebelumnya. Ajarkan juga anak untuk tidak mudah menerima hadiah dari orang lain apalagi dengan imbalan tertentu. Ajarkan juga untuk tidak mau diajak pergi oleh orang lain yang tidak dikenal
3. Pasang  mata dan telinga bila ada seseorang yang berprilaku tidak wajar di lingkungan sekolah atau rumah. Ajaklah orang tua lainnya untuk bersama-sama mengawasi atau mengamati demi keselamatan anak.
4. Mengajarkan  anak  rasa malu. Orang tua sebaiknya membiasakan mengganti baju anak di ruangan terbuka yang dapat dilihat orang lain. Biasakan mengganti baju di toilet atau ruang ganti. Bahkan bila sedang di pantai atau di kolam renang.  Ini akan  membuat anak akan menolak bila ada yang memintanya membuka baju
5. Bijak menggunakan media sosial. Sebisa mungkin tidak memposting foto atau video anak, terutama saat dia tidak berpakaian. Jangan berbagi identitas anak, di mana sekolahnya dan informasi lainnya di medsos.
Demikian beberapa ciri yang dapat dijadikan pegangan bagi orang tua dalam melindungi anaknya. Semoga bermanfaat dan tetaplah menjadi orang tua yang menyenangkan yang selalu hadir dalam setiap tahapan kehidupannya.


#OrangTauHebatOrangTuaTerlibat
#KeluargaPeduliPendidikan
#IbuBerkilau
#KerLiPParenting
#iKerLiP

Ibu Rumah Tangga Pilihan Karir Yang Membanggakan



Assalamualaikum
Nama saya Ekasari Widyati, saya ibu dari Syahna Rahmah Falihah  (19 tahun) dan Nabila Ishma Nurhabibah (16 tahun). Profesi yang saya jalankan selama 20 tahun ini adalah ibu rumah tangga,  Awal memutuskan berkarir menjadi ibu rumah tangga  bukanlah hal mudah, apalagi saat awal menikah keadaan situasi keuangan keluarga kami belum cukup kuat.  Latar belakang pendidikan sarjana Planologi ITB membuat banyak orang mempertanyakan pilihan karir saya, terutama dari orang tua. Perlu waktu  sampai akhirnya kedua orang tua mengerti dan memahami pilihan saya. Bekerja dan berkarir di luar rumah memang suatu pilihan yang menggiurkan saat itu juga merupakan kepuasaan  yang dapat menaikkan “harga diri” sebagai individu. Berbeda dengan perempuan yang memilih berkarier sebagai ibu rumah tangga. Memilih karir sebagai ibu rumah tangga, seolah tidak ada penghargaan yang pantas disandangnya, selain kepuasan dan rasa beruntung karena memiliki banyak waktu bersama keluarga. Keyakinan bahwa pendidikan yang saya tempuh selama ini tidak sia-sia karena merupakan modal dalam mendidik anak-anak lebih menguatkan tekat saya.
Di Indonesia kebanyakan perempuan yang berpendidikan tinggi masih merasa rugi bila akhirnya berprofesi  menjadi ibu rumah tangga.   Diakui atau tidak anak-anak dari perempuan berpendidikan tinggi malah berada dalam pola asuh  dan didikan para asisten rumah tangga atau  bila beruntung oleh keluarga terdekat. Kalaupun anak anak tersebut pada akhirnya mendapat pendidikan yang berkualitas itu  karena mendapat dukungan finansial yang kuat. Namun tetap akan  berbeda dengan anak anak yang memang sepenuhnya berada dibawah bimbingan ibunya, pola pikir dan jiwa mereka benar-benar duplikasi dari orang tuanya bukan orang lain. Sebagai Ibu rumah tangga,  saya  memiliki  keleluasaan dalam mengajarkan dan menanamkan  nilai nilai agama, etika,  disiplin, pengorbanan, kerja sama dan kesederhanaan di rumah, terutama di masa-masa emas, yaitu pada usia lima tahun pertama masa perkembangan pesat otak seorang anak Bila itu sudah terbangun maka saat anak anak bersekolah, sekolah tidak direpotkan lagi dengan masalah-masalah perilaku anak karena nilai-nilai luhur telah melebur dalam karakter setiap siswa yang mereka “bawa” dari rumah.  Sebagai Ibu saya, selalu dapat secara langsung terlibat dalam membangun  mimpi-mimpi besar, kesuksesan dan kebahagiaan serta berada di sampingnya  saat anak-anak harus mengalami kegagalan. Buat saya semua itu lebih berharga daripada  mengejar karir. Sayapun terus berproses menjadi ibu pembelajar.  Hal tersebut saya lakukan demi kepentingan terbaik kedua anak saya.  Menghabiskan waktu mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tanpa asisten rumah tangga, menemani  anak anak dalam berbagai aktivitas  serta  memotivasi anak-anak untuk meraih prestasi disegala bidang yang disukai, turut hadir  dalam semua proses  menjadi pribadi yang rendah hati namun tangguh  adalah “ keasikan”  yang sayang bila tidak dinikmati.
20 tahun berkarir sebagai ibu rumah tangga adalah proses tumbuh bersama yang luar biasa.  Saya memulai lagi menemukenali siapa saya dengan “jabatan” baru yaitu seorang istri dan ibu. Karena bagaimana mungkin bisa menjadi seorag istri dan ibu yang baik bila saya tidak kenal siapa, apa dan bagaimana saya juga kelebihan dan kekurangan saya.  Semua itu saya jalankan sebagai bentuk intropeksi untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik. Anak-anakpun  telah turut berproses dalam mengenali siapa diri mereka dimulai dengan pencarian apa minat dan bakat yang mereka miliki. 
Sebagai ibu saya mendampingi anak dalam proses tersebut. Saya termasuk ibu yang  yakin setiap anak itu memiliki kecerdasan yang berbeda. Karena itu, pasti setiap anak  akan belajar dan menguasai suatu bidang dengan cara yang juga berbeda. Saya mempunya cara sendiri  untuk mengetahui minat dan bakat  anak-anak. Sejak kecil saya memberikan  kesempatan keduanya untuk mengeksplorasi  berbagai macam hal baru dengan cara yang menyenangkan. Trend saat ini, orang tua banyak ditawarkan berbagai tes untuk mengetahui minat dan bakat anak.  Berbagai metode menarik  ditawarkan satu paket dengan aneka kursus sebagai penunjang bakat anak, seakan yang sayang dilewatkan.  Saya sendiri termasuk orang tua yang tidak   mudah tergoda  mencoba berbagai tes dan mengikuti berbagai les, apalagi mengingat biaya yang harus dibayar tidaklah sedikit. Saya perlu berfikir berkali-kali karena  keperluan keluarga sehari-hari cukup banyak, dan dari segi keuangan belum memungkinkan. Saya memutuskan untuk menggunakan cara yang paling pas buat kami. Keputusan itu kami ambil atas dasar keyakinan bahwa  yang paling  mengetahui minat dan bakat anak adalah kami orangtuanya karena selalu bersama mereka. Sayapun memutuskan untuk mencoba jalur lain yang tidak memberatkan terutama dalam hal keuangan. Saya ingat betul sejak masih di Taman Kanak-kanak,  Syahna dan Nabila sering  mengikuti berbagai kompetisi dan kegiatan. Tujuannya bukan untuk keluar sebagai pemenang namun lebih  untuk mengetahui jenis kegiatan apa yang mereka sukai, berani tampil di depan orang banyak serta melatih kekuatan mental. Seiring dengan berjalannya waktu akhirnya saya dapat melihat  arah pilihan Syahna  dan Nabila. Keduanya memiliki beberapa kecerdasan dan pilihan yang cenderung berbeda. Alhamdulilah saat ini mereka telah mencapai proses mengenali diri mereka dan membuat target pencapaian serta menentukan cita citanya di masa depan.  Berbagai kegiatan dan  penghargaan tingkat kota hingga international telah mereka raih. Menjadi bagian dalam kepengurusan di organisasi tingkat sekolah, kota  hingga nasional membuat mereka dapat membuka jaringan dan membangun relasi  sendiri.   Satu hal yang selalu saya lakukan pada anak-anak adalah menunjukkan bahwa saya menghargai kerja keras  dan proses yang mereka lalui bukan hanya hasil  akhir, karena kerja keras adalah pembelajaran yang berharga bagi anak kita.
Dalam menjalankan aktivitas yang padat tentunya dibutuhkan stamina yang prima, dan  kami memilih rutin berolahraga. Olahraga adalah salah satu  cara untuk menghilangkan berbagai masalah dan kejenuhan. Kami berikan pandangan pada anak-anak bahwa, lapangan olahraga adalah tempat bermain mereka,  jadi nikmatilah tiap detik waktu berolahraga dengan rasa senang.   Saat masih di bangku Sekolah Dasar keduanya sama sama mengikuti olahraga beladiri jit kun do.  Kami sepakat mengenalkan olahraga beladiri dengan harapan mereka dapat menjaga diri karena sebagai orangtua, kita  tidak bisa selamanya mengawasi anak-anak. Ada saatnya mereka berada diluar pengawasan kita.  Menjelang masuk SMP anak-anak  mulai beralih mencari olahraga lain yang menjadi pilihan mereka.  Syahna memilih olahraga   anggar sedangkan Nabila memilih panahan. Dengan berbekal dasar-dasar beladiri secara fisik keduanya tidak perlu menjalani penyesuaian yang lama. Pemilihan  kedua jenis olahraga yang terbilang mahal ini bukan tanpa resiko.  Di tengah keterpurukan ekonomi keluarga karena masalah pekerjaan, tidak menyebabkan kami mundur dari olahraga yang anak-anak pilih.  Pada awal mulai latihan anak-anak meminjam alat-alat yang ada di tempat latihan.  Seiring berjalannya waktu, kelengkapan alat-alat  mereka dapatkan dari uang saku dan hadiah keikutsertaan dalam berbagai event pertandingan. Menikmati kegiatan olahraga dan bermain tanpa beban  membuat keduanya berprestasi di berbagai kejuaraan. Cukup banyak medali yang telah keduanya dapatkan dari berbagai pertandingan. Kemampuan bermain anggar Syahna semakin meningkat saat ia mendapatkan kesempatan berlatih selama 1 tahun saat mengikuti pertukaran pelajar ke Hungary. Ini menjadi bekal dalam mengikuti PORDA 2018 nanti. Olahraga mengajarkan keduanya lebih disiplin, sabar dapat mengolah emosi, tanggung jawab, konsisten, bekerja keras, siap menerima kekalahan, tidak sombong saat menang, berteman dan bergaul, mengelola uang saku, serta managemen pembagian waktu. Selain itu juga yang tidak kalah penting adalah kekuatan mental dan keyakinan bahwa kekalahan  membuat kita kuat. Karena  kekalahan sebenarnya adalah sumber energi terbesar yang suatu saat akan mngantarkan kita mencapai suatu tahap yang tidak terbayangkan.
Sebagai orang tua rasa sayang pada anak membuat kita merasa perlu selalu memastikan anak-anaknya berada di lingkungan yang aman dan nyaman dalam  melakukan aktivitas rutin.Tanpa disadari  menempatkan anak di zona nyaman membuat anak-anak kita  hanya tahu dan melakukan hal itu-itu saja. Itu berlangsung bertahun tahun. Bosan? Ya dan tidak. Kesadaran baru timbul saat kemungkinan zona nyamannya sudah tidak lagi menjadi tempat yang nyaman. Berdasarkan hal tersebut sejak kecil saya mulai mengajarkan anak-anak keluar dari zona nyaman. Dengan berpegang pada norma dan tatakrama serta etika yang berlaku, saya beri kesempatan mereka untuk bergaul dengan teman-teman  diluar zona nyaman mereka.  Misalnya bermain dengan teman yang berbeda sekolah, berbeda  status ekonomi keluarga (lebih mampu atau kurang mampu), anak-anak berkebutuhan khusus atau sebaliknya, anak kurang beruntung, anak yang bermasalah dengan hukum,  anak-anak lain diluar lingkungan sekolah, mendatangi lingkungan yang berbeda.  Keluar dari zona nyaman bukanlah hal mudah, perlu keberanian dan “kekuatan”.  Manfaat keluar dari zona nyaman yang dirasakan kedua anak saya antara lain, merasa lebih baik, wawasan lebih terbuka dan menemukan banyak hal baru, dihargai orang lain, semakin kuat keyakianan akan diri dan potensinya, membuat diri mereka semakin kuat serta siap jatuh dan bangkit untuk lebih baik, lebih menghargai proses dan menambah teman dan pengalaman.
Hal terakhir yang merupakan bagian terpenting yang selalu saya tanamkan pada anak-anak adalah agama dan keluarga. Anak-anak harus yakin bahwa Allah akan selalu dekat dengan kita selama kita istiqomah di jalanNya, melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya.   Selain itu saya juga selalu ingatkan bahwa keluarga tidak akan  pernah berubah dan akan selalu ada bila dibutuhkan. Kedekatan keluarga selalu kami jaga.  Saling menghargai, dan menghormati satu sama lain  serta memaafkan kesalahan adalah kunci dari kedamaian dalam keluarga.
Lalu.. nikmat apa lagi yang kau dustakan ? Memilih karir menjadi ibu rumah tangga bukanlah suatu pilihan yang salah atau memalukan.  Lihatlah begitu banyak hal yang dapat kita lakukan dengan leluasa.  Kita bisa tumbuh bersama anak-anak, menjadi bagian terpenting dalam kehidupan mereka. Jadi jangan pernah ragu dan menyesal berkarir sebagai Ibu rumah tangga. Berbahagialah para ibu yang diberi kesempatan oleh suami untuk berkarir sebagai ibu rumah tangga hingga memiliki kesempatan lebih banyak untuk tumbuh bersama anak-anak. Saya bangga menjadi ibu rumah tangga.
Menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan karir yang membanggakan.

#OrangTauHebatOrangTuaTerlibat
#KeluargaPeduliPendidikan
#IbuBerkilau
#KerLiPParenting
#iKerLiP